
Saat merasa benar, akhlak sering mulai retak. Bukan karena kebenaran itu salah, tetapi karena cara kita memegangnya berubah menjadi pembelaan ego. Merasa benar lalu merasa bermoral membuat kita lupa menahan diri, mudah menghakimi, dan mengira menyerang adalah bentuk kepedulian. Di titik ini, empati menyempit, bahasa mengeras, dan hubungan rusak—padahal benar belum tentu bijak. Akhlak tidak runtuh karena kita tidak tahu mana yang benar, melainkan karena kita gagal menjaga sikap saat keyakinan kita diuji oleh perbedaan.
Tinggalkan Balasan